Bismillah...:-)

Selasa, 30 April 2013

Artikel: Buat Apa Pakai Jilbab..?




Buat apa pakai jilbab kalau mulut belum dijaga..?

Begitulah sindiran banyak orang terhadap perempuan berjilbab namun mempunyai kelemahan dalam berbicara, sehingga banyak yang berpendapat lebih baik tak berjilbab namun punya tutur  kata yang baik. Padahal Kelemahan ini dapat diperbaiki, sedang memakai jilbab sangatlah utama dan dosanya yang dimiliki tak berganda. Orang yang tidak memakai jilbab dan tak terjaga mulutnya, menanggung dua dosa. Sedang yang memakai jilbab dan mulut khilaf , hanya menanggung 1 dosa dan bila disadari akan terhapus kesalahannya.

Sobat, jangan takut berjilbab panjang hanya karena sindiran orang “jangan sok alim lah”.  Jika kita asyik menuruti nasehat yang tak betul, capek deh hidup ini. Sia-sia sekali hidup kita jika untuk menutupi aurat saja tak mau. Jika di dunia membuka aurat, di akhirat sehelai bajupun tak akan dapat kecuali baju dari neraka. Sungguh mengerikan, sobat.

Para wanita banyak yang enggan dan risih pakai jilbab panjang, yang benar-benar menutup rambut dan dadanya. Bacalah  ayat Alquran ini:

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya (jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, wajah dan dada) ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Al-ahzab: 59)

Sangat mengherankan ketika sebuah pemerintah menyuruh para wanita untuk memakai jilbab, mereka memberontak seperti orang-orang kafir memberontak pada Rasulullah n  saat Rasulullah mengajak mereka ke islam yang murni. Berbagai alasan diutarakan dan dengan amat berani mengatakan pemerintah telah melanggar HAM (aahhhhhhH   Hak Asasi Manusia). Sungguh luar biasa pembantahan mereka dan langsung mengalihkan ke masalah Pemerintah yang lain tentang korupsi yang belum terselesaikan dengan sempurna.

Para pemimpin pecinta kebebasan, mengeluarkan pendapat bahwa jilbab adalah menurut tempat tinggal dan sudut pandang masyarakatnya. Yaitu Jika di Arab, mereka memakai jilbab atau cadar sesuai dengan tradisinya. Dan jika di Indonesia, memakai baju yang biasa saja tanpa harus menutup kepala, sudah bisa dikatakan sopan dan baik.

Padahal  jilbab atau cadar bukanlah adat orang Arab melainkan adalah perintah Allah untuk semua wanita muslim agar lebih dikenal sebagai muslimah dan mempunyai perbedaan dengan wanita-wanita kafir.

Sangat mengherankan jika ada yang memakai cadar  atau jilbab panjang menjuntai ke bawah, dianggap aneh dan berlebihan. Namun, jika ada yang berpakaian seksi, dianggap sangat mengagumkan dan luar biasa. Setan telah mengindahkan pemandangan maksiat dalam mata kita.

Ketika wahyu yang berisi Perintah untuk mengenakan jilbab turun, para Istri-istri Nabi tidak menunggu lama untuk memenuhi perintah tersebut. Mereka langsung mengambil gorden untuk menutupi seluruh badan, kepala dan wajahnya. Karena apa? Karena mereka dengar dan mereka taat.  

Tidak seperti Iblis yang ketika Allah memerintahkan untuk sujud hormat kepada Adam, Iblis menyaring terlebih dahulu perintah Allah swt tersebut dengan akalnya dan melawan perintah-Nya dikarenakan kesombongannya. Dan jika wanita-wanita sekarang tak segera mau menutup auratnya, maka berarti mereka mau mewarisi sifat-sifat Iblis laknatullah. Na’udzubillah min dzalik.

“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang sebelum mereka telah mendapat kehinaan. “ (QS Al-Mujaadillah:5) 

Seperti cinta yang tidak bisa dipaksakan, jilbab juga tidak bisa dipaksakan oleh orang lain. Harus dengan kesadaran diri dan keikhlasan hati agar pahala dari Allah kita raih dan Allah menjauhkan kita dari neraka yang gambarannya seperti ini:

“Sesungguhnya seringan-ringan siksa ahli neraka di hari kiamat ialah orang yang dibawah telapak kakinya diletakkan bara api yang dapat mendidihkan otaknya.” (Bukhari Muslim)

Wahai wanita, tunggu apa lagi? Ambillah kain lalu tutuplah auratmu di hadapan laki-laki yang bukan mahrammu!

Jangan menunggu nanti atau tahun depan, karena belum tentu engkau hidup esok hari! Semoga Allah membuka hatimu. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu’alam.


Tentang Pekerjaanku



Aku bekerja di Toko Online Koleksi Sifa (kunjungi ya FB Koleksi Sifa).
Jabatan: Direktur Utama (Direktur kecil-kecilan bukan Direktur di perusahaan besar, he..he.)

Koleksi Sifa menjual:

1. Peralatan dapur dari untuk Ibu-Ibu sampai untuk anak-anak.
2. Jual Jas Hujan dan sepatu Hujan (yang gak dijual Hujannnya, he..he)
3. Ada mainan Dokter-Dokteran yang dapat merangsang kecerdasan anak.
4. Mainan Kereta juga dijual (untuk hiburan anak)
5. Untuk melatih anak nabung, juga ada koleksi Celengan dan Atm mini.

Dan masih banyak lagi produk di koleksi sifa.
Unuk melihat barangnya, silahkan lihat di FB Koleksi Sifa/Sifacollection922@yahoo.com

Oce, Wassalam.

Senin, 29 April 2013

Khaulah binti Tsa’labah dan Pengaduannya





Tutur kata dan bahasanya begitu indah. Ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Suaminya bernama Aus bin Shamit bin Qais, saudaranya ‘Ubadah bin Shamit h. Suami wanita hebat ini juga ikut dalam perang Badar dan perang Uhud serta peperangan lainnya bersama Rasulullah n . Siapakah dia? Dia adalah Khaulah binti Tsa’labah bin Ashram bin Fihr bin Ghanam bin ‘Auf d. Khaulah dan suaminya mempunyai seorang anak yang bernama Ar-Rabi’.

Suatu hari terjadi perselisihan antara Khaulah binti Tsa’labah dan Aus bin Shamit, sehingga membuat Aus marah dan men-zhihar-nya dengan berkata: “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.”  Setelah ia berkata seperti itu, ia pergi ke sebuah perkumpulan dan kemudian kembali pulang ke rumah menemui istrinya dan ingin menggaulinya. Akan tetapi, hati Khaulah enggan untuk memenuhi keinginan suaminya sebelum ia mengetahui apa hukum Allah atas apa yang telah diucapkan oleh suaminya itu dan masalah yang dihadapinya ini adalah masalah yang baru pertama sekali terjadi dalam sejarah Islam. oleh karena itu, Khaulah berkata kepada Aus bin Shamit.

“Sekali-kali jangan dulu. Demi dzat yang jiwa Khaulah ada dalam kekuasaan-Nya, janganlah sekali-kali engkau menyentuhku, sebab engkau telah mengatakan apa yang engkau katakan tadi, sampai Allah dan Rasul-Nya menghukumi persoalan ini,” lalu Khaulah keluar menghadap Rasulullah n.

Khaulah menceritakan perlakuan suaminya kepadanya. Ia bermaksud untuk menanyakan hukum yang sebenarnya dan mengemukakan pendapatnya dalam permasalahan tersebut. Ketika itu, Rasulullah n hanya bersabda:

“Aku tidak akan memerintahkan sesuatu dalam persoalanmu… Aku tidak mengetahui persoalanmu, kecuali bahwa engkau telah haram untuknya.”

Khaulah kembali bicara dan menjelaskan kepada Rasulullah n tentang konsekuensi yang bakal menimpa dirinya dan anaknya jika ia harus berpisah dari suaminya. Akan tetapi, setiap kali Khaulah mengadukan hal yang sama, Nabi n hanya menjawab: “Aku tidak mengetahui persoalanmu, kecuali bahwa engkau telah haram untuknya.”

Mendengar jawaban Rasulullah n yang demikian, muslimah ini menengadahkan tangannya ke langit dengan amat sedih dan berduka. Air matanya mengalir. Lalu ia pun mengadukan permasalahannya kepada Allah l Yang Maha Mengabulkan segala doa dan permintaan hamba-Nya. Khaulah berdoa.

“Ya Allah, sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu, sebab belum ada ayat yang Engkau turunkan berkaitan dengan permasalahanku ini..”

Sungguh luar biasa wanita ini, sedang sangat banyak wanita-wanita di zaman  ini malah mencari dalil selain Al-Quran untuk memecahkan masalahnya karena tidak sesuai dengan hawa nafsunya. Dan Khaulah ketika itu berada di dekat Rasulullah n serta mengadukan persoalannya dan  meminta fatwa kepada beliau n, akan tetapi ia paham bahwa memohon pertolongan dan mengadu itu sebenarnya hanya layak ditujukan kepada Allah l. Inilah bentuk kemurnian iman dan tauhid yang diajarkan Nabi n kepada para shahabat.

Tak lama Khaulah selesai berdoa kepada Allah, tiba-tiba Rasulullah pingsan pertanda sedang menerima wahyu. Setelah siuman, beliau n bersabda: “Wahai Khaulah! Sesungguhnya Allah telah menurunkan ayat yang berkaitan denganmu dan suamimu.” Lalu beliau n membacakan surat Al-Mujadilah ayat 1-4.

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Allah mendengar Tanya jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kalian (menganggap istrinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Sungguh mereka benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian mereka bermaksud menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka wajib memerdekakan seorang budak sebelum keduanya (suami istri) bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kalian dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. Barang siapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa 2 bulan berturur-turut sebelum keduanya bercampur. Barang siapa yang tidak mampu (berpuasa),  maka wajib atasnya memberi makan kepada 60 orang miskin. Demikianlah supaya kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. itulah hukum-hukum Allah dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.” (QS. Al-Mujadilah (58): 1-4)

Lalu Rasulullah n menerangkan kepada Khaulah tentang kifarat (penebus, denda) zhihar. Rasulullah n bersabda kepadanya:

“Perintahkanlah suamimu untuk memerdekakan seorang budak!”

“Wahai Rasulullah, dia tidak mempunyai biaya untuk memerdekakan seorang budak.” Jawab Khaulah.

“Hendaklah ia berpuasa 2 bulan berturut-turut.”

“Demi Allah, sesungguhnya dia adalah seorang laki-laki yang sudah tua dan tidaklah mungkin dia kuat menjalankan puasa.”   

“Hendaklah ia memberi makan kepada 60 orang miskin dengan kurma.”

“Demi Allah, wahai Rasulullah, dia tidak memiliki harta untuk itu.”

“Sesungguhnya aku akan membantunya dengan separoh kurma dari keseluruhan kurma yang harus ia shadaqahkan.”

“Wahai Rasulullah, saya pun akan membantunya dengan separohnya yang lain.”

Sungguh engkau telah berbuat sesuatu yang benar dan baik. Sekarang, pulanglah engkau dan shadaqahkan kurma itu atas namanya, kemudian nasihatilah anak pamanmu itu (suaminya) dengan nasihat yang baik.” Khaulah pun melaksanakan perintah Rasulullah n.

Demikianlah kisah Khaulah dan pengaduannya yang didalamnya mengandung banyak pelajaran bagi kita. Keta’atan yang tidak mengandung pertentangan, keimanan yang tidak mengandung keraguan, kesungguhan mencari kebenaran dan percaya bahwa tempat pengaduan dan tempat meminta pertolongan terbaik hanyalah kepada Allah l saja.

Semoga Allah meridhai muslimah ini dan muslimah lainnya yang mau mengikuti jejaknya. Amin.

 

Sumber: Buku “Shahabat wanita utama Rasulullah n dan keteladanan mereka” karya Mahmud Mahdi Al-Istambuli, Musthafa Abun Nashri Asy-Syilbi.

 


Kisah Wanita Teladan: Hindun binti ‘Utbah



 
Jika kita disakiti dan dianiaya oleh seseorang lalu ia bertobat, mampukah kita memaafkannnya? Padahal ia juga yang telah sadis membunuh saudara-saudara kita? Mampukah kita menerimanya seperti penerimaan Rasulullah saw terhadap Hindun binti ‘Utbah? Semoga kita mampu memaafkan seperti apa yang dilakukan Rasulullah saw terhadap Hindun yang pernah berbuat  jahat karena telah membunuh paman Rasulullah saw, yaitu Hamzah bin ‘Abdul Muththallib .

Di masa Jahiliyyah, Hindun binti ‘Utbah terkenal dengan kesombongan dan keangkuhannya. Hindun menikah dengan Abu Sufyan bin Harb. Selama kehidupan rumah tangganya dengan Abu Sufyan, Hindun selalu antusias untuk melakukan hal-hal yang terpuji, jauh lebih baik daripada sekadar melampiaskan kebutuhan suami istri.

Akan tetapi, Hindun adalah tipe wanita yang sangat ambisius dan memandang dirinya memang layak memiliki sifat tersebut. Salah satu buktinya adalah ketika beberapa orang melihat ada tanda-tanda keunggulan pada diri anaknya (Mu’awiyah) seraya berkata padanya:

“Jika dia (Mu’awiyah) hidup sampai besar, tentu dia akan menjadi pemimpin kaumnya.”

Ternyata Hindun tidak merasa heran sekali dengan pujian itu, bahkan dengan sombongnya dia menimpalinya dengan berkata:

“Dia akan celaka kalau hanya menjadi pemimpin kaumnya sendiri.”

Ketika terjadi perang Badar Kubra, ayah Hindun, pamannya yang bernama Syaibah, dan saudaranya yang bernama Al-Walid terbunuh. Hindun merasa sangat terpukul dan meratapi kepergian mereka dengan ratapan yang sangat memilukan. Suatu hari dia berada di pasar ‘Ukazh dan bertemu dengan Khansa’. Khansa’ lalu bertanya kepadanya.

“Siapakah yang kamu tangisi, wahai Hindun?”

“Aku menangisi matinya sang pemimpin dua lembah dan pelindungnya dari setiap agressor yang ingin merampasnya. Yakni Bapakku, seorang yang terdepan dalam berbuat kebaikan. Begitu juga Syaibah dan seorang pejuang pemberani, Walid. Padahal mereka semua adalah orang mulia dari keluarga mulia dan mati saat kemuliaan mereka sedang Berjaya.”

Saat terjadi perang Uhud, Hindun menempati posisi penting dalam barisan tentara kaum musyrik Quraisy yang dipimpin oleh suaminya, Abu Sufyan. Hindun pada saat itu dipercaya menjadi promoter dalam mengobarkan semangat perang kepada pasukan laki-laki dan menjadi pemimpin barisan kaum wanita.

Dalam perang Uhud inilah Hindun menggoreskan lembaran hitam dalam sejarah hidupnya yang tak mungkin dilupakannya. Lembaran hitam itu adalah perbuatannya terhadap sang panglima sekaligus Bapak para syuhada’, Hamzah bin ‘Abdul Muththallib.

Hindun menyuruh budaknya, Wahsyi bin Harb untuk membalaskan dendamnya dengan membunuh Hamzah. Sebagai uapahnya dia akan dimerdekakannya. Dengan api dendam yang membara dalam dirinya, Hindun berkata:

“Pergilah dan obatilah dendamku!”

Ucapan tersebut tidaklah aneh, karena memang keluar dari lisan Hindun yang sedang dimabuk dendam. Yang sangat aneh dan mengerikan adalah apa yang dia lakukan terhadap jasad pahlawan syahid (Hamzah) –yang menunjukkan pengkhianatannya yang sangat memalukan—yang mana dia memotong hidung dan kedua telinga Hamzah serta membelah perutnya, lalu dia keluarkan jantungnya, kemudian dia kunyah namun tidak sanggup dia menelannya, lalu ia muntahkan. Selanjutnya, dia berteriak dengan lantang:

“Kami telah berhasil membalas kalian atas kekalahan kami di perang Badar, dalam peperangan setelah peperangan yang hebat. Kematian ‘Utbah tak mungkin membuatku bersabar, begitu juga kematian saudaraku dan pamanku. Kini lukaku telah terobati dan nadzarku telah terbayar. Wahai Wahsyi, engkau telah mengobati dendam di dadaku. Terima kasih wahai Wahsyi atas nama umurku selamanya sampai tulang belulangku hancur dalam kubur.”

Demikianlah Hindun akhirnya dia dijuluki sebagai “wanita pemakan jantung”, suatu julukan yang menyakitkan hatinya. Bahkan sampai dia masuk Islam, julukan itu tetap menempel pada dirinya.

Hindun tetap dalam kesombongan dan keangkuhannya sampai tiba saatnya dia dimuliakan oleh kalimah Allah, yakni saat tiba sebuah kemenangan yang nyata (Fat-hu Makkah). Kehendak Allah SWT telah menjadikan pahlawan wanita jahiliyyah ini menjadi pahlawan wanita Islam.

Pada malam terjadinya Fat-hu Makkah, Abu Sufyan bin Harb kembali ke Makkah setelah baru saja mengahadap Rasulullah saw dan menyatakan keislamannya. Sesampainya di Makkah dia berseru:

“Wahai segenap kaum Quraisy, ketahuilah bahwa aku telah masuk Islam, maka masuk Islamlah kalian semua! Sesungguhnya Muhammad telah datang kepada kalian dengan membawa pasukan yang sekali-kali kalian tak akan sanggup menghadapinya, maka barang siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, dia akan aman.”

Melihat kejadian itu, Hindun segera bangkit dan menarik kumis Abu Sufyan dan berseru berulang-ulang:

“Engkau adalah pemimpin kaum terburuk. Wahai penduduk Makkah, bunuhlah orang yang tak berguna dan seburuk-buruk pemimpin kaum ini!”

Abu Sufyan menjawab:

“Celakalah kalian semua! Janganlah kalian tertipu oleh omongan wanita ini. Sungguh, sebentar lagi Muhammad akan tiba dengan membawa pasukan yang sekali-kali kalian tak akan sanggup menghadapinya. Karenanya, barang siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, dia akan aman.”

Kaum Quraisy menjawab:

“Semoga Allah membinasakanmu, kami sekali-kali tidak membutuhkan rumahmu.”

Abu Sufyan meneruskan ucapannya:

“Barang siapa yang mengunci pintu rumahnya, dia akan aman dan barang siapa yang masuk ke dalam masjid, dia akan aman.”

Orang-orang pun lalu berhamburan, sebagian ada yang pulang ke rumah dan sebagian ada yang masuk ke dalam masjid.

Pada hari kedua setelah Fat-hu Makkah, Hindun berkata kepada suaminya:

“Sesungguhnya aku ingin menjadi pengikut Muhammad. Bawalah aku menghadap kepadanya!”

“Sesungguhnya kemarin aku melihatmu sangat benci dengan ucapan ini.” Jawab Abu Sufyan.

“Demi Allah, sungguh aku belum pernah melihat Allah disembah dengan sebenar-benarnya di masjid ini selain pada malam ini. Demi Allah! Mereka tidak bermalam di dalamnya, melainkan dengan mengerjakan shalat seraya berdiri, ruku’, dan sujud.”

“Sesungguhnya engkau bisa mengerjakan apa yang hendak kau kerjakan. Pergilah bersama salah seorang kaummu untuk menemanimu.”

Hindun pun pergi kepada ‘Utsman bin ‘Affan. ‘Utsman lantas pergi membawa Hindun dan beberapa orang wanita lainnya menghadap Rasulullah saw. Ketika itu Hindun menghadap Rasulullah saw dengan muka tertutup cadar dengan maksud agar tidak dikenal siapa dirinya. Dia berbuat seperti itu karena merasa malu dengan perbuatannya pada masa silam kepada Hamzah. Dia takut kalau-kalau Rasulullah saw akan menghukumnya atas perbuatannya itu. Dalam majelis itu dia berkata:

“Wahai Rasulullah, segala puji bagi Allah yang telah memenangkan agama yang telah dipilih-Nya sendiri, mudah-mudahan aku mendapat manfaat dari kasih sayangmu. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku adalah seorang wanita yang telah beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya.”

Selanjutnya, dia membuka cadarnya dan berkata: “Aku adalah Hindun binti ‘Utbah.”

Rasulullah saw menjawab:

“Selamat datang untukmu!”

“Demi Allah, dahulu tidak ada penghuni rumah di muka bumi ini yang lebih kuinginkan untuk dihinakan selain penghuni rumahmu, tetapi sekarang tidak ada penghuni rumah di muka bumi ini yang lebih aku sukai untuk dimuliakan selain penghuni rumahmu.”

Rasulullah saw lalu menjawabnya, membacakan ayat Al-Quran dan membai’at Hindun beserta wanita-wanita lain yang bersamanya. Selanjutnya, Hindun bertanya:

“Wahai Rasulullah, apakah kami tidak perlu berjabat tangan denganmu?”

Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita. Sesungguhnya perkataanku kepada 100 wanita sama seperti perkataanku kepada 1 orang wanita.”

Rasulullah saw pun membai’at kaum wanita, termasuk Hindun dengan mengatakan:

“Kalian berbai’at kepadaku bahwa kalian tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah.”

Hindun menjawab:

“Demi Allah, sesungguhnya engkau boleh mengambil sesuatu dari kami sebagaimana yang engkau ambil dari kaum pria dan kami benar-benar akan memberikannya kepadamu.”

Nabi saw meneruskan perkataannya:

“Dan kalian tidak akan mencuri.”

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang laki-laki kikir, apakah aku boleh mengambil harta makanan yang ia miliki tanpa izinnya?” sahut Hindun.

Rasulullah saw lalu mengizinkannya untuk mengambil kurma basah dan tidak mengizinkannya untuk mengambil kurma yang telah dikeringkan.

“Dan kalian tidak akan berzina”

“Apakah mungkin wanita merdeka berbuat zina?” sela Hindun.

Nabi saw melanjutkan pembai’atannya.

“Dan kalian tidak akan membunuh anak-anak kalian.”

“Dulu kami telah mengasuh anak-anak kami pada waktu mereka kecil, tetapi setelah mereka besar engaku bunuh mereka pada waktu perang Badar. Namun bagaimanapun juga, engkau dan merekalah yang lebih mengerti permasalahannya.”

‘Umar tertawa sampai terbahak-bahak.

Rasulullah saw melanjutkan pembai’atan sampai selesai.

Setelah menjadi muslimah, Hindun selalu berusaha memperdalam keimanannya. Keimanannya itulah yang kemudian menuntunnya untuk turut berjihad bersama kaum muslim lainnya. Hindun telah meriwayatkan beberapa hadits Nabi, sehingga anaknya, Mu’awiyah bin Abu Sufyan dan juga Ummul Mukminin, ‘Aisyah, pernah meriwayatkan beberapa Hadits Nabi saw darinya.

Pada tahun ke 14 Hijriah, Hindun binti ‘Utbah wafat. Dia adalah wanita yang digambarkan oleh putranya sendiri, Mu’awiyah:

“Dia adalah wanita yang pada zaman jahiliyyah memiliki keagungan dan pada masa Islam memiliki kemuliaan yang baik.”  

 Sumber: Buku “Shahabat wanita utama Rasulullah saw dan keteladanan mereka” karya Mahmud Mahdi Al-Istambuli, Musthafa Abun Nashri Asy-Syilbi.

 

 


Artikel: “Pendidikan anak usia dini itu penting!”



Kenapa saya mengatakan itu penting? Tak lain karena ada banyak manfaat yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Sayangnya, pembelajaran terhadap anak usia dini mengalami kesurutan. Pandangan masyarakat umum masih terkesan menganggap tak perlu memberikan pelajaran sekolah bagi anak-anak yang baru beranjak dua tahun hingga lima tahun, apalagi soal baca membaca. Padahal di saat anak-anak berumuran dini, otaknya mampu merekam lebih banyak ingatan daripada orang dewasa.

Kesadaran akan hal ini, perlu kita tanam di hati masyarakat. Agar tidak terlambat nantinya. Dalam Islam saja, dari dalam kandungan kita sudah diharuskan mengajarinya untuk memakan yang baik-baik, melatih pendengarannya dengan sering-sering kita bacakan Alquran, dan banyak lainnya.

Dengan adanya pendidikan anak di usia dini, anak akan terlatih untuk bersahabat, bersosialisasi, tenggang rasa, menumbuhkan kemandirian, cerdas dalam berpikir, mampu untuk berkompetensi, melatih kemajuan si kecil dan banyak lainnya yang dapat kita ambil hikmahnya dari pendidikan semacam ini.

Saat saya mengajar di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) selama satu tahun di pusat Kota Lhokseumawe, saya sering mengamati pertumbuhan akhlak dan kecerdasan anak-anak didik saya. Ternyata banyak orang tua murid yang belum memahami kebutuhan si kecil yang amat penting ini, yaitu perhatian.

Perhatian di rumah mempengaruhi anak ketika ia berkumpul dengan komunitas orang ramai. Bila mendapatkan perhatian yang cukup, ia akan terlihat ceria dan bijak manakala ia bergabung dengan teman-temannya. Namun, bila sebaliknya. Ia akan sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan luar dan suka berdiam diri. Lain lagi bila di rumah ia di didik dengan kemanjaan dan perhatian yang lebih, kemungkinan ia akan terbiasa bersikap egois dan tidak mandiri. Seimbang itu akan lebih baik bagi anak-anak kita.

Sebenarnya di sinilah peran guru PAUD. Menyeimbangkan perhatian dan menuntun anak-anak agar membiasakan diri untuk bersikap positif, berakhlak mulia dalam kehidupan sehari-harinya.

Kembali pada pentingnya pendidikan anak usia dini. Dilihat dari segi kebutuhan, pendidikan anak usia dini memang benar-benar suatu kewajiban yang harus kita usahakan.

Saya melihat sebagian dari kita yang telah dewasa, adab dan budi pekerti sering dinomorduakan. Contoh yang paling mendasar adalah terlupanya membaca bismillah ketika makan dan minum, selalu menyisakan makanan di piring, makan dan minum dengan tangan kiri, berbicara sambil makan, berteriak di depan umum, makan dan minum sambil berdiri, suka berbicara kotor, tidak memiliki jiwa tenggang rasa dan bersosialisasi dan lain seterusnya. Kenapa ini semua bisa terjadi? Ya, karena pembiasaan dari kecil.

Aturan Islam itu sangat indah. Tapi sayang, banyak dari kita yang tidak mengindahkannya. Padahal Islam selalu menganjurkan yang terbaik bagi umatnya. Dan sebagian kita? Sungguh tidak peduli.

Di dalam PAUD, dari sedini mungkin, kita sudah mengenalkan anak-anak kepada kehidupan Rasulullah dan menumbuhkan benih-benih cinta di hati anak terhadap semua orang dengan cerita dan pelajaran asyik lainnya. Bermain sambil belajar. Anak senang, Ibu tenang, Allah ridha, bukan?

Hanya dengan pengajaran yang baiklah, kita bisa menggapai ridhaNya. Anak wajib dibentuk dari sekarang. Ibarat tanah liat, kalau sudah lama ia akan mengering dan keras. Selagi ia dalam keadaan basah, kita bisa membentuk pribadinya menjadi pribadi yang sholeh dan cerdas.

Caranya, tuntunlah ia untuk meneladani sifat-sifat dan kebiasaan sehari-hari Rasulullah. Karena di dalam diri Rasulullah, terdapat budi pekerti yang luhur.

Akhir kata, segala yang baik datangnya dari Allah dan segala yang kurang datangnya dari diri saya sendiri. Mudah-mudahan tulisan yang sedikit ini, membawa manfaat dan berkah bagi penulis dan pembaca sekalian. Amin..Ya Rabbal ’alamin! Wallahu ’alam.