Bismillah...:-)

Senin, 29 April 2013

Khaulah binti Tsa’labah dan Pengaduannya





Tutur kata dan bahasanya begitu indah. Ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Suaminya bernama Aus bin Shamit bin Qais, saudaranya ‘Ubadah bin Shamit h. Suami wanita hebat ini juga ikut dalam perang Badar dan perang Uhud serta peperangan lainnya bersama Rasulullah n . Siapakah dia? Dia adalah Khaulah binti Tsa’labah bin Ashram bin Fihr bin Ghanam bin ‘Auf d. Khaulah dan suaminya mempunyai seorang anak yang bernama Ar-Rabi’.

Suatu hari terjadi perselisihan antara Khaulah binti Tsa’labah dan Aus bin Shamit, sehingga membuat Aus marah dan men-zhihar-nya dengan berkata: “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.”  Setelah ia berkata seperti itu, ia pergi ke sebuah perkumpulan dan kemudian kembali pulang ke rumah menemui istrinya dan ingin menggaulinya. Akan tetapi, hati Khaulah enggan untuk memenuhi keinginan suaminya sebelum ia mengetahui apa hukum Allah atas apa yang telah diucapkan oleh suaminya itu dan masalah yang dihadapinya ini adalah masalah yang baru pertama sekali terjadi dalam sejarah Islam. oleh karena itu, Khaulah berkata kepada Aus bin Shamit.

“Sekali-kali jangan dulu. Demi dzat yang jiwa Khaulah ada dalam kekuasaan-Nya, janganlah sekali-kali engkau menyentuhku, sebab engkau telah mengatakan apa yang engkau katakan tadi, sampai Allah dan Rasul-Nya menghukumi persoalan ini,” lalu Khaulah keluar menghadap Rasulullah n.

Khaulah menceritakan perlakuan suaminya kepadanya. Ia bermaksud untuk menanyakan hukum yang sebenarnya dan mengemukakan pendapatnya dalam permasalahan tersebut. Ketika itu, Rasulullah n hanya bersabda:

“Aku tidak akan memerintahkan sesuatu dalam persoalanmu… Aku tidak mengetahui persoalanmu, kecuali bahwa engkau telah haram untuknya.”

Khaulah kembali bicara dan menjelaskan kepada Rasulullah n tentang konsekuensi yang bakal menimpa dirinya dan anaknya jika ia harus berpisah dari suaminya. Akan tetapi, setiap kali Khaulah mengadukan hal yang sama, Nabi n hanya menjawab: “Aku tidak mengetahui persoalanmu, kecuali bahwa engkau telah haram untuknya.”

Mendengar jawaban Rasulullah n yang demikian, muslimah ini menengadahkan tangannya ke langit dengan amat sedih dan berduka. Air matanya mengalir. Lalu ia pun mengadukan permasalahannya kepada Allah l Yang Maha Mengabulkan segala doa dan permintaan hamba-Nya. Khaulah berdoa.

“Ya Allah, sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu, sebab belum ada ayat yang Engkau turunkan berkaitan dengan permasalahanku ini..”

Sungguh luar biasa wanita ini, sedang sangat banyak wanita-wanita di zaman  ini malah mencari dalil selain Al-Quran untuk memecahkan masalahnya karena tidak sesuai dengan hawa nafsunya. Dan Khaulah ketika itu berada di dekat Rasulullah n serta mengadukan persoalannya dan  meminta fatwa kepada beliau n, akan tetapi ia paham bahwa memohon pertolongan dan mengadu itu sebenarnya hanya layak ditujukan kepada Allah l. Inilah bentuk kemurnian iman dan tauhid yang diajarkan Nabi n kepada para shahabat.

Tak lama Khaulah selesai berdoa kepada Allah, tiba-tiba Rasulullah pingsan pertanda sedang menerima wahyu. Setelah siuman, beliau n bersabda: “Wahai Khaulah! Sesungguhnya Allah telah menurunkan ayat yang berkaitan denganmu dan suamimu.” Lalu beliau n membacakan surat Al-Mujadilah ayat 1-4.

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Allah mendengar Tanya jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kalian (menganggap istrinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Sungguh mereka benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian mereka bermaksud menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka wajib memerdekakan seorang budak sebelum keduanya (suami istri) bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kalian dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. Barang siapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa 2 bulan berturur-turut sebelum keduanya bercampur. Barang siapa yang tidak mampu (berpuasa),  maka wajib atasnya memberi makan kepada 60 orang miskin. Demikianlah supaya kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. itulah hukum-hukum Allah dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.” (QS. Al-Mujadilah (58): 1-4)

Lalu Rasulullah n menerangkan kepada Khaulah tentang kifarat (penebus, denda) zhihar. Rasulullah n bersabda kepadanya:

“Perintahkanlah suamimu untuk memerdekakan seorang budak!”

“Wahai Rasulullah, dia tidak mempunyai biaya untuk memerdekakan seorang budak.” Jawab Khaulah.

“Hendaklah ia berpuasa 2 bulan berturut-turut.”

“Demi Allah, sesungguhnya dia adalah seorang laki-laki yang sudah tua dan tidaklah mungkin dia kuat menjalankan puasa.”   

“Hendaklah ia memberi makan kepada 60 orang miskin dengan kurma.”

“Demi Allah, wahai Rasulullah, dia tidak memiliki harta untuk itu.”

“Sesungguhnya aku akan membantunya dengan separoh kurma dari keseluruhan kurma yang harus ia shadaqahkan.”

“Wahai Rasulullah, saya pun akan membantunya dengan separohnya yang lain.”

Sungguh engkau telah berbuat sesuatu yang benar dan baik. Sekarang, pulanglah engkau dan shadaqahkan kurma itu atas namanya, kemudian nasihatilah anak pamanmu itu (suaminya) dengan nasihat yang baik.” Khaulah pun melaksanakan perintah Rasulullah n.

Demikianlah kisah Khaulah dan pengaduannya yang didalamnya mengandung banyak pelajaran bagi kita. Keta’atan yang tidak mengandung pertentangan, keimanan yang tidak mengandung keraguan, kesungguhan mencari kebenaran dan percaya bahwa tempat pengaduan dan tempat meminta pertolongan terbaik hanyalah kepada Allah l saja.

Semoga Allah meridhai muslimah ini dan muslimah lainnya yang mau mengikuti jejaknya. Amin.

 

Sumber: Buku “Shahabat wanita utama Rasulullah n dan keteladanan mereka” karya Mahmud Mahdi Al-Istambuli, Musthafa Abun Nashri Asy-Syilbi.

 


Tidak ada komentar: