Bismillah...:-)

Senin, 29 April 2013

Kisah Wanita Teladan: Hindun binti ‘Utbah



 
Jika kita disakiti dan dianiaya oleh seseorang lalu ia bertobat, mampukah kita memaafkannnya? Padahal ia juga yang telah sadis membunuh saudara-saudara kita? Mampukah kita menerimanya seperti penerimaan Rasulullah saw terhadap Hindun binti ‘Utbah? Semoga kita mampu memaafkan seperti apa yang dilakukan Rasulullah saw terhadap Hindun yang pernah berbuat  jahat karena telah membunuh paman Rasulullah saw, yaitu Hamzah bin ‘Abdul Muththallib .

Di masa Jahiliyyah, Hindun binti ‘Utbah terkenal dengan kesombongan dan keangkuhannya. Hindun menikah dengan Abu Sufyan bin Harb. Selama kehidupan rumah tangganya dengan Abu Sufyan, Hindun selalu antusias untuk melakukan hal-hal yang terpuji, jauh lebih baik daripada sekadar melampiaskan kebutuhan suami istri.

Akan tetapi, Hindun adalah tipe wanita yang sangat ambisius dan memandang dirinya memang layak memiliki sifat tersebut. Salah satu buktinya adalah ketika beberapa orang melihat ada tanda-tanda keunggulan pada diri anaknya (Mu’awiyah) seraya berkata padanya:

“Jika dia (Mu’awiyah) hidup sampai besar, tentu dia akan menjadi pemimpin kaumnya.”

Ternyata Hindun tidak merasa heran sekali dengan pujian itu, bahkan dengan sombongnya dia menimpalinya dengan berkata:

“Dia akan celaka kalau hanya menjadi pemimpin kaumnya sendiri.”

Ketika terjadi perang Badar Kubra, ayah Hindun, pamannya yang bernama Syaibah, dan saudaranya yang bernama Al-Walid terbunuh. Hindun merasa sangat terpukul dan meratapi kepergian mereka dengan ratapan yang sangat memilukan. Suatu hari dia berada di pasar ‘Ukazh dan bertemu dengan Khansa’. Khansa’ lalu bertanya kepadanya.

“Siapakah yang kamu tangisi, wahai Hindun?”

“Aku menangisi matinya sang pemimpin dua lembah dan pelindungnya dari setiap agressor yang ingin merampasnya. Yakni Bapakku, seorang yang terdepan dalam berbuat kebaikan. Begitu juga Syaibah dan seorang pejuang pemberani, Walid. Padahal mereka semua adalah orang mulia dari keluarga mulia dan mati saat kemuliaan mereka sedang Berjaya.”

Saat terjadi perang Uhud, Hindun menempati posisi penting dalam barisan tentara kaum musyrik Quraisy yang dipimpin oleh suaminya, Abu Sufyan. Hindun pada saat itu dipercaya menjadi promoter dalam mengobarkan semangat perang kepada pasukan laki-laki dan menjadi pemimpin barisan kaum wanita.

Dalam perang Uhud inilah Hindun menggoreskan lembaran hitam dalam sejarah hidupnya yang tak mungkin dilupakannya. Lembaran hitam itu adalah perbuatannya terhadap sang panglima sekaligus Bapak para syuhada’, Hamzah bin ‘Abdul Muththallib.

Hindun menyuruh budaknya, Wahsyi bin Harb untuk membalaskan dendamnya dengan membunuh Hamzah. Sebagai uapahnya dia akan dimerdekakannya. Dengan api dendam yang membara dalam dirinya, Hindun berkata:

“Pergilah dan obatilah dendamku!”

Ucapan tersebut tidaklah aneh, karena memang keluar dari lisan Hindun yang sedang dimabuk dendam. Yang sangat aneh dan mengerikan adalah apa yang dia lakukan terhadap jasad pahlawan syahid (Hamzah) –yang menunjukkan pengkhianatannya yang sangat memalukan—yang mana dia memotong hidung dan kedua telinga Hamzah serta membelah perutnya, lalu dia keluarkan jantungnya, kemudian dia kunyah namun tidak sanggup dia menelannya, lalu ia muntahkan. Selanjutnya, dia berteriak dengan lantang:

“Kami telah berhasil membalas kalian atas kekalahan kami di perang Badar, dalam peperangan setelah peperangan yang hebat. Kematian ‘Utbah tak mungkin membuatku bersabar, begitu juga kematian saudaraku dan pamanku. Kini lukaku telah terobati dan nadzarku telah terbayar. Wahai Wahsyi, engkau telah mengobati dendam di dadaku. Terima kasih wahai Wahsyi atas nama umurku selamanya sampai tulang belulangku hancur dalam kubur.”

Demikianlah Hindun akhirnya dia dijuluki sebagai “wanita pemakan jantung”, suatu julukan yang menyakitkan hatinya. Bahkan sampai dia masuk Islam, julukan itu tetap menempel pada dirinya.

Hindun tetap dalam kesombongan dan keangkuhannya sampai tiba saatnya dia dimuliakan oleh kalimah Allah, yakni saat tiba sebuah kemenangan yang nyata (Fat-hu Makkah). Kehendak Allah SWT telah menjadikan pahlawan wanita jahiliyyah ini menjadi pahlawan wanita Islam.

Pada malam terjadinya Fat-hu Makkah, Abu Sufyan bin Harb kembali ke Makkah setelah baru saja mengahadap Rasulullah saw dan menyatakan keislamannya. Sesampainya di Makkah dia berseru:

“Wahai segenap kaum Quraisy, ketahuilah bahwa aku telah masuk Islam, maka masuk Islamlah kalian semua! Sesungguhnya Muhammad telah datang kepada kalian dengan membawa pasukan yang sekali-kali kalian tak akan sanggup menghadapinya, maka barang siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, dia akan aman.”

Melihat kejadian itu, Hindun segera bangkit dan menarik kumis Abu Sufyan dan berseru berulang-ulang:

“Engkau adalah pemimpin kaum terburuk. Wahai penduduk Makkah, bunuhlah orang yang tak berguna dan seburuk-buruk pemimpin kaum ini!”

Abu Sufyan menjawab:

“Celakalah kalian semua! Janganlah kalian tertipu oleh omongan wanita ini. Sungguh, sebentar lagi Muhammad akan tiba dengan membawa pasukan yang sekali-kali kalian tak akan sanggup menghadapinya. Karenanya, barang siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, dia akan aman.”

Kaum Quraisy menjawab:

“Semoga Allah membinasakanmu, kami sekali-kali tidak membutuhkan rumahmu.”

Abu Sufyan meneruskan ucapannya:

“Barang siapa yang mengunci pintu rumahnya, dia akan aman dan barang siapa yang masuk ke dalam masjid, dia akan aman.”

Orang-orang pun lalu berhamburan, sebagian ada yang pulang ke rumah dan sebagian ada yang masuk ke dalam masjid.

Pada hari kedua setelah Fat-hu Makkah, Hindun berkata kepada suaminya:

“Sesungguhnya aku ingin menjadi pengikut Muhammad. Bawalah aku menghadap kepadanya!”

“Sesungguhnya kemarin aku melihatmu sangat benci dengan ucapan ini.” Jawab Abu Sufyan.

“Demi Allah, sungguh aku belum pernah melihat Allah disembah dengan sebenar-benarnya di masjid ini selain pada malam ini. Demi Allah! Mereka tidak bermalam di dalamnya, melainkan dengan mengerjakan shalat seraya berdiri, ruku’, dan sujud.”

“Sesungguhnya engkau bisa mengerjakan apa yang hendak kau kerjakan. Pergilah bersama salah seorang kaummu untuk menemanimu.”

Hindun pun pergi kepada ‘Utsman bin ‘Affan. ‘Utsman lantas pergi membawa Hindun dan beberapa orang wanita lainnya menghadap Rasulullah saw. Ketika itu Hindun menghadap Rasulullah saw dengan muka tertutup cadar dengan maksud agar tidak dikenal siapa dirinya. Dia berbuat seperti itu karena merasa malu dengan perbuatannya pada masa silam kepada Hamzah. Dia takut kalau-kalau Rasulullah saw akan menghukumnya atas perbuatannya itu. Dalam majelis itu dia berkata:

“Wahai Rasulullah, segala puji bagi Allah yang telah memenangkan agama yang telah dipilih-Nya sendiri, mudah-mudahan aku mendapat manfaat dari kasih sayangmu. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku adalah seorang wanita yang telah beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya.”

Selanjutnya, dia membuka cadarnya dan berkata: “Aku adalah Hindun binti ‘Utbah.”

Rasulullah saw menjawab:

“Selamat datang untukmu!”

“Demi Allah, dahulu tidak ada penghuni rumah di muka bumi ini yang lebih kuinginkan untuk dihinakan selain penghuni rumahmu, tetapi sekarang tidak ada penghuni rumah di muka bumi ini yang lebih aku sukai untuk dimuliakan selain penghuni rumahmu.”

Rasulullah saw lalu menjawabnya, membacakan ayat Al-Quran dan membai’at Hindun beserta wanita-wanita lain yang bersamanya. Selanjutnya, Hindun bertanya:

“Wahai Rasulullah, apakah kami tidak perlu berjabat tangan denganmu?”

Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita. Sesungguhnya perkataanku kepada 100 wanita sama seperti perkataanku kepada 1 orang wanita.”

Rasulullah saw pun membai’at kaum wanita, termasuk Hindun dengan mengatakan:

“Kalian berbai’at kepadaku bahwa kalian tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah.”

Hindun menjawab:

“Demi Allah, sesungguhnya engkau boleh mengambil sesuatu dari kami sebagaimana yang engkau ambil dari kaum pria dan kami benar-benar akan memberikannya kepadamu.”

Nabi saw meneruskan perkataannya:

“Dan kalian tidak akan mencuri.”

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang laki-laki kikir, apakah aku boleh mengambil harta makanan yang ia miliki tanpa izinnya?” sahut Hindun.

Rasulullah saw lalu mengizinkannya untuk mengambil kurma basah dan tidak mengizinkannya untuk mengambil kurma yang telah dikeringkan.

“Dan kalian tidak akan berzina”

“Apakah mungkin wanita merdeka berbuat zina?” sela Hindun.

Nabi saw melanjutkan pembai’atannya.

“Dan kalian tidak akan membunuh anak-anak kalian.”

“Dulu kami telah mengasuh anak-anak kami pada waktu mereka kecil, tetapi setelah mereka besar engaku bunuh mereka pada waktu perang Badar. Namun bagaimanapun juga, engkau dan merekalah yang lebih mengerti permasalahannya.”

‘Umar tertawa sampai terbahak-bahak.

Rasulullah saw melanjutkan pembai’atan sampai selesai.

Setelah menjadi muslimah, Hindun selalu berusaha memperdalam keimanannya. Keimanannya itulah yang kemudian menuntunnya untuk turut berjihad bersama kaum muslim lainnya. Hindun telah meriwayatkan beberapa hadits Nabi, sehingga anaknya, Mu’awiyah bin Abu Sufyan dan juga Ummul Mukminin, ‘Aisyah, pernah meriwayatkan beberapa Hadits Nabi saw darinya.

Pada tahun ke 14 Hijriah, Hindun binti ‘Utbah wafat. Dia adalah wanita yang digambarkan oleh putranya sendiri, Mu’awiyah:

“Dia adalah wanita yang pada zaman jahiliyyah memiliki keagungan dan pada masa Islam memiliki kemuliaan yang baik.”  

 Sumber: Buku “Shahabat wanita utama Rasulullah saw dan keteladanan mereka” karya Mahmud Mahdi Al-Istambuli, Musthafa Abun Nashri Asy-Syilbi.

 

 


Tidak ada komentar: